BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam ilmu ekonomi terdapat
sebuah pembahasan mengenai elastisitas, dimana elastisitas yang dapat
memungkinkan kita untuk menganalisa supply dan demand secara lebih tepat dan
juga dapat mengukur seberapa besar respons dari pembeli dan penjual terhadap
perubahan kondisi pasar yang terjadi saat ini. dalam teori tentang permintaan ,
besarnya perubahan permintaan sebagai akibat dari adanya perubahan harga tidak
diketahui seberapa besar efeknya yang dikeahui hanyalah turun atau naik
perubahan jumlah yang diminta.
Elastisitas harga dari
permintaan mengukur berapa banyak perubahan jumlah permintaan akibat perubahan
harga. Elastisitas pendapatan dari permintaan mengukur berapa banyak jumlah
permintaan yang mengalami perubahan akibat perubahan pendapatan. Elastisitas
silang harga dari permintaan mengukur berapa banyak perubahan jumlah permintaan
suatu barang ketika barang yang lain mengalami perubahan harga. Elastisitas
harga dari penawaran mengukur berapa banyak perubahan jumlah penawaran akibat
perubahan harga.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dari masing-masing elastisitas dari mulai dari elastisitas
jangka
panjang dan pendek, elastisitas permintaan dan elastisitas penawaran?
2.
Apakah aplikasi dari konsep elastisitas?
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Elastisitas jangka pendek dan jangka panjang
Jika
kita bertanya berapa banyak permintaan atau penawaran berubah karena perubahan
harga, yang harus diperjelas adalah dimensi waktu perubahannya. Jika dimensi
waktunya satu tahun atau kurang, kita berbicara tentang elastisitas jangka
pendek. Bila lebih dari satu tahun, kita berbicara elastisitas jangka panjang.
a.
Elastisitas Permintaan
1)
Elastisitas Harga
Untuk
barang-barang yang habis dipakai dalam waktu kurang dari setahun (barang tidak
tahan lama atau non durable goods),
elastisitas harga lebih besar dalam jangka panjang dibanding dalam jangka
pendek. Ada dua penyebab yaitu:
Pertama, konsumen membutuhkan waktu
untuk mengubah kebiasaan mereka. Misalnya, bila harga kopi naik konsumen yang
biasa minum kopi banyak (lebih dari tiga gelas perhari), sulit mengubah
kebiasaan itu dalam jangka pendek. Akibatnya permintaan kopi dalam jangka
pendek mengalami penurunan yang relatif sedikit dibanding dalam jangka panjang.
Kedua, kadang-kadang
permintaan terhadap suatu barang berkaitan dengan barang lain, yang
perubahannya baru terlihat dalam jangka panjang. Misalnya, bila harga BBM naik,
maka konsumen segera melakukan penyesuaian dengan mengurangi jam pemakaian
kendaraan, sehingga dalam jangka pendek elastisitas harga lebih besar. Tetapi
konsumen tidak dapat mengubah jumlah stok kendaraannya, atau segera
menggantikan kendaraannya dengan model yang lebih efisien dalam penggunaan
bahan bakar. Dalam dua atau tiga tahun kemudian, dengan mobil yang lebih
efisien, penurunan BBM akan lebih besar. Sehingga elastisitas harga permintaan
jangka panjang lebih besar daripada jangka pendek.

![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
2)
Elastisitas Pendapatan
Elastisitas
pendepatan dalam jangka panjang bagi barang nondurabel lebih besar dibanding
jangka pendek. Jika pendapatan meningkat 20%, masyarakat yang tadinya hanya
mampu makan gaplek, sekarang sebenarnya mampu membeli beras. Namun karena sudah
terbiasa makan gaplek, mereka tidak segera mengganti konsumsinya ke beras.
(Gaplek adalah bahan makanan yang berasal dari singkong dikeringkan, dapat
dibuat makanan yang dinamakan tiwul sebagai
pengganti nasi).
Sebaliknya
barang durabel, elastisitas pendapatan dalam jangka pendek lebih besar dari
pada jangka panjang. Jika pendapatan naik 25%, perubahan permintaan terhadap
mobil dalam jangka pendek dapat mencapai misalnya 30%, tetapi dalam jangka
panjang lebih kecil, karena seseorang tidak membeli mobil setiap tahun.
b.
Elastisitas Penawaran
Hampir semua barang memiliki penawaran
yang lebih elastis dalam jangka panjang, dibanding dalam jangka pendek. Sebab
dalam jangka panjang perusahaan mampu mengatasi kendala-kendala yang muncul
dalam jangka pendek. Misalnya, perusahaan mobil tidak mungkin membangun pabrik
baru dalam waktu kurang dari satu tahun, tetapi dalam waktu tiga atau empat
tahun. Dengan demikian kurva penawaran akan mobil dalam jangka panjang lebih
elastis dibanding dalam jangka pendek.
Untuk beberapa barang, penawaran
dalam jangka pendeknya inelastis sempurna (Es = 0). Output sektor properti
adalah salah satu contohnya. Bila di Jakarta ada 5.000 unit apartemen yang siap
sewa, maka jumlah permintaan yang terpenuhi maksimal 5.000 unit. Misalnya dalam
tiga bulan kedepan ada lonjakan permintaan sebesar 10.000 unit, maka kelebihan
pemintaan itu tidak terspon oleh sisi penawaran. Sebab tidak mungkin membangun
apartemen baru sebanyak 5.000 unit dalam tempo kurang dari tiga bulan.
Tetapi ada juga barang yang penawarannya
justru lebih elastis dalam jangka pendek, dibanding jangka panjang. Barang itu
umumnya yang dapat didaur ulang (recycling). Misalnya logam besi untuk kebutuhan
industri dapt diperoleh dari hasil primer pertambangan (primary metal). Dan atau hasil dari daur ulang.
Primary metal mempunyai elastisitas
penawaran dalam jangka panjang yang lebih besar dibanding dalam jangka pendek,
baik karena kemajuan teknologi maupun cukupnya waktu untuk meningkatkan
kapaasitas produksi. Sebaliknya dengan besi hasil daur ulang. Karena dapat
terus didaur ulang, maka kurva penawaran dalam jangka panjangnya lebih
inelastis dibanding dalam jangka pendek.

![]() |
|||
![]() |
2.2
Aplikasi Konsep Elastisitas
Sebagai bilangan yang menunjukkan tingkat
sensitivitas suatu barang dikaitkan dengan variabel-variabel yang
mempengaruhinya, maka aplikasinya sangat luas, khususnya dalam kebijaksanaan
penentuan harga. Dalam bagian ini, hanya dibahas dua contoh saja.
a.
Hubungan Elestisitas Harga, Penerimaan Total, dan Pendapatan Marjinal
Jika
harga jual barang naik, dua kemungkinan ekstrem reaksi para manajer.
Kemungkinan pertama mereka panik, mengira kenaikan harga menurunkan permintaan
sehingga penerimaan turun. Kemungkinan kedua mereka bergembira, mengira
kenaikan harga akan menyebabkan penerimaan meningkat. Sikap mana yang benar,
sangat ditentukan oleh elastisitas harga.
Untuk
barang yang permintaannya inelastis, kenaikan harga 10% akan menyebabkan
penurunan permintaan lebih kecil daripada 10%, sehingga penerimaan total atau
total revenue (TR) meningkat. Atau
dapat dikatakan untuk barang yang permintaanya inelastis, pendapatan marjinal
atau marginal revenue (MR) negatif.
Barang yang permintaannya elastis, kenaikan harga 10%, akibatnya penerimaan
total menurun. Dengan kata lain MR positif. Barang yang elastisitas
permintaanya unitari, kenaikan harga 10% menurunkan permitaan sebesar 10% juga.
Akibatnya TR tidak berubah, atau MR sama dengan nol. Dengan cara berpikir yang
sama, kita dapat menyimpulkan apa yang terjadi jika harga turun. TR dapat
didefinisikan sebagai harga (P) dikalikan dengan jumlah barang (Q) yang
terjual. Sedangkan MR adalah tambahan penerimaan yang disebabkan oleh
bertambahnya satu unit barang yang terjual, atau MR = dTR/dQ.
![]() |
b.
Pergeseran Beban Pajak (Tax Incidence)
Jika
pemerintah memutuskan mengenakan pajak untuk barang mie instant, pengenaan pajak dibebankan kepada produsen. Siapakah yang
diuntungkan? Sepintas tampaknya yang diuntungkan adalah konsumen, karena beban
pajak ditanggung oleh produsen. Apakah benar demikian?
Untuk menjawab
pertanyaan di atas, kita harus memerhatikan sisi permintaan dan penawaran. Di
sisi penawaran, sebagai produk industri, elastisitasnya relatif besar.
Sementara di sisi permintaan, sebagai alternatif utama adalah nasi, permintaanya
relatif inelastis. Maka distribusi beban pajak antara konsumen dan produsen
adalah sebagai berikut.
Kondisi keseimbangan
awal sebelum pajak adalah P0 dan Q0. Pajak sebesar T per
unit menyebabkan kurva penawaran bergeser dari S0 ke S1.
Koordinat keseimbangan berubah ke (P1, Q1).
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
Besarnya penerimaan
pajak adalah jumlah unit yang terjual dikalikan T per unit sama dengan 0Q1
(P1-P2) atau sama dengan luas segi empat A dan C. Bidang
A dan C aadlah bagian dari surplus konsumen dan surplus produsen yang hilang
dan masuk ke dalam khas pemerintah sebagai penerimaan pajak. Berdasaarkan luas
bidang, maka produsen berhasil menggeser sebagian besar beban pajak kepada
konsumen (bidang A). Jadi kebijakan di atas relatif merugikan konsumen.
Kondisinya akan terbalik
bila yang inelastis adlah kurva penawaran, sementara kurva permintaannya
elastis. Bandingkan dengan contoh berikut.
Anjloknya
nilai mata uang rupiah terhadap mata uang asing telah meningkatkan permintaan
negara lain terhadap hasil kerajinan tangan Indonesia. Pemerintah ingin
memanfaatkan keadaan itu untuk meningkatkan penerimaan pajak, dengan mengenakan
pajak sebesar T per unit untuk setiap hasil kerajinan tangan yang dibeli. Agar
tidak merugikan produsen yang pada umumnya pengusaha lemah, maka pajak dipungut
kepada konsumen. Benarkah hal itu tidak merugikan konsumen? Karena produsen
tidak menggunakan teknologi canggih, maka kurva penawaran relatif inelastis.
Sementara karena alternatif pilihan cindera mata begitu banyak, maka kurva
permintaan relatif elastis.



c.
Teori Cobweb (Sarang Laba-laba)
Teori
cobweb menjelaskan mengenai harga produk pertanian yang menunjukkan fluktuasi
tertentu dari musim ke musim. Penyebab fluktuasi tersebut adalah reaksi
terlambat (time lag) dari produsen
(petani) terhadap harga.
Misalkan,
pada musim pertama (musim 1) jumlah produk pertanian yang dihasilkan sebanyak Q1.
Kita telah mengetahui bahwa barang-barang hasil pertanian merupakan barang non durable (tidak tahan lama). Itulah
sebabnya jumlah Q1 tadi harus terjual habis pada musim itu juga
dengan harga P1 (berdasarkan kurva permintaan D). Untuk selanjutnya
para petani mungkin sekali mendasarkan keputusannya. Untuk selanjutnya, para
petani mungkin sekali mendasarkan keputusannya untuk berproduksi pada harga
yang berlaku di pasar (P1), sehingga jumlah yang ditawarkan pada
musim berikutnya (musim 2) adalah sebanyak Q2 (sesuai dengan hukum
penawaran), dengan anggapan bahwa harga tetap pada P1. Namun, dengan
jumlah sebanyak Q2 di pasar, maka harga yang terjadi pada musim 2
adalah P2. Kemudian, petani merencanakan berproduksi selanjutnya
sebanya Q3 pada musim P3. Dengan harga P3 ini
pulalah petani membuat rencana produksi sebanyak Q4 pada musim 4,
dan begitu seterusnya. Apabila proses ini terus berlangsung, fluktuasinya akan
semakin mengecil dan akhirnya terjadi (equilibrium), dimana harga keseimbangan
Pe dan jumlah yang diproduksi (dan dikonsumsi) sebanyak Qe.
Pada tingkat ini terjadi kestabilan. Dalam proses tersebut tingkat harga
menunjukkan fluktuasi (naik turun) dari satu musim ke musim lainnya. Proses ini
dinamakan Cobweb atau sarang
laba-laba.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Elastisitas jangka panjang dan pendek di
lihat dari dimensi waktu perubahannya, jika dimensi waktunya satu tahun atau
kurang, kita berbicara tentang elastisitas jangka pendek, bila lebih dari satu
tahun kita berbicara elastisitas jangka panjang.
2.
Sebagai bilangan yang menunjukan
tingkat sentivitas suatu barang dikaitkan dengan variabel – variabel yang
mempengaruhinya, maka aplikasinya sangat luas, khususnya dalam kebijaksanaan
penentuan harga.
DAFTAR PUSTAKA
Pratama
Rahardja dan Mandala Manurung.2008.Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi&
Makroekonomi).Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Baccarat Online - Play for Free and Win at FBSCasino
BalasHapusThe Best Live Casino Games · Baccarat · Blackjack · Poker 바카라 사이트 · Roulette · 1xbet Craps · Baccarat · kadangpintar Blackjack · Craps.